11:11: Apa yang Kau Lihat? (2019)

11:11: Apa yang Kau Lihat? (2019)

Genre: Kengerian
Kualitas: Tahun: Durasi: 78 MenitDilihat: 664 views

Dengan judul yang unik, seketika film ini menangkap perhatian kita. Kenapa angka? Di abad pertengahan, berkembang ilmu yang khusus meneliti hubungan antarangka-angka dengan kemungkinan makna di baliknya. Bahwa aspek positif dan negatif yang terkandung dalam setiap barisan angka. Meskipun kita mengulum senyum membacanya, praktek numerologi tak bisa disangkal masih sering diterapkan di dunia modern seperti sekarang. Orang ngadaian pesta di nikah pada tanggal-tanggal yang dinilai ‘cantik’. Bioskop dan pesawat yang enggak punya baris ke-13, atau gimana orang Jepang membangun apartemen dengan sengaja mengeskip lantai empat. Dan aku masih ingat, belum lama banget, berkembang tren ngepos angka kembar yang tak sengaja terlihat dan mengaitkannya dengan lambang abjad dari nama orang yang dipercaya saat itu lagi kangen ama yang melihat angka.

Film 11:11 garapan Andi Manoppo bukan film pertama yang menyinggung horor yang terkandung pada angka sebelas. Pernah ada film Hollywood, 11-11-11 (2011) yang mengkapitalisasi betapa angka sebelas kembar merupakan lambang terbukanya gerbang neraka. Dalam film Manoppo yang menceritakan empat anak muda pencinta diving, waktu sebelas lewat sebelas juga menandakan petaka yang bakal datang. Meskipun memang hanya sedikit sekali build-up mengenai kepentingan waktu tersebut; kita hanya melihat sebelum menyelam, seseorang dari mereka melihat angka tersebut pada jam tangan – dan nantinya keadaan menjadi buruk di dalam air sana. Namun ada satu mitos lagi, sesuatu yang mereka lakukan di dalam sana – yang melanggar larangan – yang actually menjadi trigger sebenarnya kemunculan petaka. Jadi, angka 11:11 pada judul hanya tampak seperti lapisan pengecoh yang enggak benar-benar penting dengan adegannya yang menunjukkan ini seperti ditambahkan supaya judulnya ‘terbayar’. Bahkan tokohnya saja tidak digambarkan punya reaksi apa-apa saat melihat angka penting tersebut.

jelas mereka gak bisa bikin film ini berjudul Karang Hiu karena takut disalahsangka ini adalah film tentang hiu.

 

Mungkin juga ini adalah cara film menyentil kebiasaan ajaib kebanyakan orang. Bahwa tidak ada yang spesial pada sebaris angka, termasuk angka kembar. Pikiran kitalah yang membuatnya menjadi spesial. Berkembangnya banyak fenomena dan kebiasaan berdasarkan angka atau waktu menunjukkan betapa kita, manusia, suka menyelami makna. Kita merasa puas jika menemukan kepentingan dan alasan di balik hal apapun dalam hidup.

Namun begitu, tawaran 11:11 memang bukan main-main. Horor di bawah laut, penonton dibawa menyelam bersama para tokoh, bukanlah suatu sajian yang mudah merekam dari dalam laut. Ini adalah teritori yang enggak berani dilakukan oleh kebanyakan film. Mereka harus membangun momen-momen mengerikan, kita tidak bisa membuat jumpscare begitu saja, dan lagi para aktor juga akan terbatas geraknya. Film ini punya ambisi yang besar untuk menampilkan itu semua. Mereka kelihatan berusaha untuk menyajikan yang terbaik yang mereka bisa. Hanya saja, tantangannya memang terlalu sulit.

Dengan pakaian selam lengkap, akan susah sekali untuk kita melihat ekspresi para tokoh. Untuk memahami apa yang mereka rasakan, mereka katakan. Butuh usaha dan kemampuan yang tinggi dari pembuat filmnya jika ingin membuat narasi yang utuh dari sekelompok penyelam yang menemukan bangkai kapal, dan punya bermacam reaksi terhadap temuan tersebut. Aku bukan mau bilang kemampuan mereka masih dangkal, tetapi kenyataan berkata lain. Film seperti pasrah untuk menjadi ‘bego’ dengan eventually membuat para tokoh tersebut saling mengobrol di dalam air. Mengobrol yang pake suara biasa, bukan pake bahasa isyarat. Setiap obrolan diakhiri dengan bunyi kresek seolah mereka ngobrol lewat transmiter radio, tapi kita bisa lihat mereka sama sekali enggak punya radio. Mereka menyelam, bicara dengan suara yang jelas, dan kemudian ada candaan seorang tokoh melihat ada cewek dan ngikutin dia nyelam ke sisi lain kapal. Adegannya seperti adegan yang terjadi di darat, hanya saja mereka membawanya ke bawah air. Pun airnya tak pernah menjadi hambatan. Ketakutan dan horor tetap datang dari jumpscare hantu yang muncul. Pada akhirnya kita tetap tidak mendapatkan pengalaman baru, kita tidak tahu seremnya menyelam itu gimana. Ada banyak hambatan yang bisa dilakukan; oksigen habis, kaki tersangkut, buta arah, tapi film hanya melakukan apa-apa yang juga sudah sering kita lihat dalam horor yang bertempat di darat.

Film berusaha keras mengisi durasi satu-jam-lebih-sedikitnya dengan cerita yang menarik mengenai hubungan antara keempat tokohnya. Ada persahabatan yang terjalin di antara tiga cowok, ada cinta segitiga yang mulai merasuk tatkala si cewek baru yang manis itu bergabung. Tokoh utama kita ditulis punya keinginan untuk bertemu kembali dengan ibu, yang sudah mengenalkan dia dengan pantai dan air, yang menghilang saat dia masih kecil. Mengutip lirik lagu Lady Gaga; kupikir “we’re far from the shallow now”. Tapi ternyata, tiga lapis cerita itu tidak benar-benar punya kedalaman. Hilangnya ibu tidak menambah apa-apa pada perkembangan tokoh utama; dia hanya belajar bahwa dia adalah bagian dari tugas sang ibu.  Persahabatan dan cinta pun ternyata cuma untuk jadi pemancing drama yang tak pernah benar-benar mekar. Ada satu adegan di menjelang akhir ketika si saingan cinta udah koit, si tokoh malah bilang semacam begini ke si cewek; “kamu cocok sama dia, kamu tahu kan dia suka sama kamu?” I mean, apa yang mau dicapai dari penenangan yang waktunya sudah telat itu? Ceritanya berlabuh dengan aneh.

Negara:
Rilis:
Direksi:

Link Download 11:11: Apa yang Kau Lihat? (2019):
720p: Google Drive | Racaty | Zippyshare | Mirror
480p: Google Drive | Racaty | Zippyshare | Mirror
360p: Google Drive | Zippyshare