6,9 Detik (2019)

6,9 Detik (2019)

Genre: Drama
Kualitas: Tahun: Durasi: 78 MenitDilihat: 54 views

Seperti semua cerita perjuangan, cerita ini pun bermula dari rumah. Ayu yang tumbuh di desa di Grobogan, Purwodadi.  Dia dekat dengan sang ibu yang bisa menolerir ‘kebandelan’ Ayu yang suka bermain ala cowok. Kebersamaan mereka terpisah oleh ibu yang pergi bekerja ke luar negeri sebagai TKW. Meskipun tidak pernah sepi di rumah – Ayu tinggal bersama ayah, dua orang kakak, dan bu’ lik (bibi) – tapi Ayu selalu merindukan ibu. Olahraga menjadi pelampiasan buat Ayu. Dia yang pada dasarnya memang berani dan suka tantangan, menekuni panjat tebing yang diperkenalkan kepadanya oleh seorang guru di SMP. Ayu sebenarnya berbakat, hanya saja kehilangan sosok ibu membuatnya sempat menjauh dari jalan yang harus ia lalui. Semuanya terserah kepada Ayu untuk menyerah atau malah kembali ke siapa dirinya, menoreh prestasi, dan membuat bangga ibu pertiwi serta ibunya sendiri.

bakatnya sudah terlihat sejak dia suka bernyanyi ‘cicak-cicak di dinding’ waktu kecil

Kisah nyata kehidupan Ayu dibagi oleh film ke dalam tiga periode. Saat dia masih kecil di tahun 1999, saat dia ABG dan diperkenalkan dengan olahraga panjat tebing, dan hari-hari berlatih di tim nasional menjelang Asian Games. Bagian dia kecillah yang paling menyenangkan untuk ditonton. Di sini Lola Amaria benar-benar telaten merajut berbagai informasi dalam adegan demi adegan. Detil-detil kecil dipergunakan untuk menanamkan kepada kita pemahaman seperti apa si Ayu – apa yang ia inginkan, apa yang membuat dia menjadi seperti dirinya sekarang. Dengan kata lain, film sukses menetapkan motivasi perjuangan Ayu setelah dewasa nantinya. Film memperlihatkan ketidaksukaan Ayu terhadap kekalahan melalui dialog serta lewat adegan-adegan interaksi Ayu dengan sekitarnya. Juga ada narasi tentang penolakan Ayu terhadap kotak-kotak gender; dia yang suka bermain bersama anak-anak cowok, memainkan permainan ‘cowok’, menolak untuk disebut anak perempuan. Sayangnya, topik cerita yang satu ini tidak terasa berujung kepada apa-apa, karena film tampak ingin kembali berfokus kepada persoalan Ayu dengan ibunya. Namun bahkan persoalan itupun tidak benar-benar memuaskan pengeksplorasiannya.

Memasuki periode kedua cerita, film tidak lagi setelaten semula dalam bertutur. Dan ini menjadi masalah karena periode ini merupakan masa terendah dalam hidup Ayu, jadi kita harus dibuat benar-benar peduli pada dirinya. Seharusnya ini adalah bagian yang penting secara emosional. Ayu membuat pilihan-pilihan yang buruk selagi kesulitan menjalani latihan panjat tebing yang memang literally sulit dan menyita banyak tenaga. Jadi ini adalah bagian di mana Ayu ‘dihajar’ habis-habisan. Tapi film memilih untuk menceritakan kehidupan Ayu di periode ini dengan sangat cepat. Rentetan klip ala montase dengan narasi voice-over Ayu menulis surat kepada ibunya pada dasarnya mendiktekan kepada kita hal-hal yang dilalui oleh Ayu – pertama kali pacaran, masalah sama temannya, mencoba ke klub malam (ada sedikit adegan underage drinking di sini) Hubungan sebab-akibat tidak lagi diperlihatkan dengan sedetil bagian sebelumnya.

Cerita tak kunjung melambat, melainkan tancap gas ke periode terakhir. Ayu kini sudah dewasa, dia sekarang berjilbab. Walaupun mengetahui hal tersebut dari poster, aku tetap kebingungan mencari mana yang tokoh Ayu saat dewasa ini. Begitulah cepatnya cerita melompat-lompat. Pertanyaan utama yang diangkat dalam periode ini adalah mengenai sanggup atau tidak Ayu bertahan dalam lingkungan pelatihan yang keras. Dan somehow, masalah Ayu dengan ibunya di periode kedua tidak pernah dijelaskan dengan memuaskan. Mereka tau-tau sudah damai, dan sekarang ‘musuh’ Ayu adalah pelatih galak yang diperankan oleh Ariyo Wahab. Tadinya kupikir film ini mengaitkan ini dengan ketidaksukaan Ayu kalah, apalagi oleh anak laki-laki – kupikir hubungan mentorship Ayu dan Pelatih akan dieksplor sehingga lebih personal daripada sekadar murid dan guru; seperti hubungan mentorship antara Paige dengan pelatihnya di Fighting with My Family (2019) tapi ternyata tidak. Film seperti buru-buru ingin sampai di adegan Asian Games. Hanya sedikit ‘hati’ yang dimasukkan ketika membahas pelatih yang ekstra keras membimbing Ayu. Tokoh Pelatih tidak terasa sebagai manusia beneran, bahkan Ayu pun tak menyentuh kita secara personal.

Link Download 6,9 Detik (2019):
720p: Google Drive | Racaty | Zippyshare | Mirror
480p: Google Drive | Racaty | Zippyshare | Mirror
360p: Google Drive | Zippyshare