Kain Kafan Hitam (2019)

Kain Kafan Hitam (2019)

Genre: Kengerian
Kualitas: Tahun: Durasi: 76 MenitDilihat: 1.350 views

Saya mengira Kain Kafan Hitam bakal menghasilkan satu lagi bencana di industri perfilman Indonesia. Sungguh salah kaprah yang parah. Dalam debut penyutradaraan yang dilakukan bersama Yudhistira Bayuadji, siapa sangka Maxime Bouttier berani bereksperimen guna melahirkan horor arthouse yang menyatukan jiwa Roma-nya Alfonso Cuaron, pendekatan Terrence Malick, gerakan Dogma 95 yang diprakarsai Lars von Trier dan Thomas Vinterberg, dan surealisme David Lynch.

Mari kita bedah satu per satu. Roma merupakan lukisan aktivitas sehari-hari, sebagaimana Kain Kafan Hitam bercerita soal Evelyn (Haico Van Der Weken) yang sedang mencari rumah baru ditemani kekasihnya, Bimo (Maxime Bouttier). Pencarian tersebut berujung di sebuah rumah besar dengan harga sewa murah. Ketimbang hanya mengintip beberapa sudut mengerikan, film ini mengajak kita mengikuti paket lengkap tur berkeliling yang dipandu Egi (Egi Fedly) si penjaga rumah.

Egi memamerkan seluruh penjuru, pelan-pelan menjelaskan “ini ruang apa”, “ruang itu di mana”, dan sebagainya. Beberapa kali, gemuruh keras musik buatan Joseph S. Djafar (Jailangkung, Jaga Pocong, Orang Kaya Baru) datang menemani meski tiada satu pun peristiwa supranatural terjadi. Hingga akhirnya Evelyn menetap di sana, hal-hal aneh mulai menampakkan wujudnya.

Adik-adiknya lebih dulu jadi korban. Suatu malam, saat Arya (Rayhan Cornellis) si bungsu henak buang air kecil, hantu berwajah mirip versi busuk dari topeng Aku Aku di serial gim Crash Bandicoot menerornya. Ketakutan, Arya pun ngompol. Berikutnya kita menyaksikan:  Evelyn membawa Arya ke kamar – Evelyn mencari celana ganti – Evelyn menggantikan celana Arya – Evelyn menidurkan Arya. Film mana yang amat murah hati mau memperlihatkan proses mengganti celana secara lengkap? Bahkan musik yang sepanjang durasi punya kebiasaan menggedor gendang telinga pun seketika senyap. Apa ini kalau bukan usaha Maxime menciptakan post-horror ala A24?

Sutradara muda harapan bangsa ini bahkan menggerakkan filmnya selambat mungkin. Para skeptis akan berkata bahwa itu sebatas usaha mengakali naskah tipis karya Girry Pratama (Revan & Reina) yang mungkin cuma berisi sekitar 30-40 halaman. Tapi saya berbeda pendapat. Saya yakin, Maxime berusaha meniru kesabaran Ari Aster kala merangkai tempo Hereditary.

Kain Kafan Hitam juga merupakan penghormatan terselubung kepada Terrence Malick. Sang sutradara legendaris gemar mengambil gambar tanpa naskah, membiarkan aktor berimprovisasi demi memperoleh kejujuran luapan rasa. Bukan mustahil, para pemain Kain Kafan Hitam juga bernasib sama seperti Brad Pitt di The Tree of Life atau Ben Affleck di To the Wonder, yakni hanya menerima arahan singkat di secarik kertas tiap hari, yang kurang lebih berbunyi, “Hari ini kamu berjalan keliling rumah, lalu buka semua gorden. Lakukan perlahan. Resapi cahaya matahari yang menyelinap di antara kisi-kisi jendela”.

Hasilnya bisa kita saksikan, ketika Haico Van Der Weken berakting sama naturalnya dengan Yalitza Aparacio. Caranya membuka gorden sungguh meyakinkan, bisa saja suatu hari nanti lapangan kerja baru sebagai pembuka gorden ia ciptakan. Akting Maxime masih secanggung biasanya, namun bisa dimaklumi. Dia mengampu tugas berat membuat horor eksperimental, sehingga wajar bila tugasnya di depan kamera agak terbengkalai.

Walau tidak begitu kental, jejak Dogma 95 yang berprinsip pada micro-budget filmmaking masih dapat kita temui di sini lewat kemunculan beberapa establishing shot dengan resolusi rendah yang bak diambil memakai kamera telepon genggam.

Menginjak 15 menit akhir, eksperimen Kain Kafan Hitam menggila. Ranah surealisme berani dijamah sewaktu menampilkan kilas balik yang bila dilihat dengan mata telanjang, timing kemunculannya terasa dipaksakan. Tapi melalui kacamata sinematik tingkat tinggi, surat cinta kepada gaya David Lynch yang sering mendadak membawa alur melompat ke dunia absurd bisa dirasakan. Di dalam dunia Lynchian, tindakan maupun motivasi yang melatarinya terkadang sukar dipahami.

Link Download Kain Kafan Hitam (2019):
720p: Google Drive | Racaty | Zippyshare | Mirror
480p: Google Drive | Racaty | Zippyshare | Mirror
360p: Google Drive | Zippyshare