Koki-koki Cilik 2 (2019)

Koki-koki Cilik 2 (2019)

Genre: Drama, Keluarga
Kualitas: Tahun: Durasi: 91 MenitDilihat: 50 views

Nyanyian, petualangan di alam terbuka, dan banyak teman-teman untuk bermain sekaligus berkompetisi, bisa jadi adalah bahan-bahan utama untuk ‘memasak’ film anak-anak yang menarik. Sebagaimana sudah dibuktikan oleh Koki-Koki Cilik (2018) yang angka raihan jumlah penontonnya tidak bisa disebut mengecewakan. Ditulis oleh orang yang sama – Vera Varidia – dengan yang menulis film sebelumnya, ‘resep’ Koki-Koki Cilik 2 kembali berusaha menempatkan bahan-bahan tersebut setepat guna mungkin sehingga sekali lagi dapat membawa kita berhaha-hihi-huhu mengikuti perjalanan anak-anak yang hobi memasak, yang actually punya bobot emosi lantaran berakar kepada permasalahan keluarga yang dijamin lekat sama target penontonnya. Tapi bahkan dengan bahan yang sama dan resep yang familiar pun, rasa masakan bisa berbeda karena sejatinya cita rasa tergantung dari sang koki, dalam kasus film; sutradaranya. Koki-Koki Cilik 2 yang kali ini diaduk oleh Viva Westi, buatku memang meninggalkan kesan dan pengalaman menonton yang secara drastis berbeda dengan film pertamanya.

Bima dan teman-teman geng Kolik (Koki Cilik) bermaksud menghabiskan masa libur dengan pergi reunian ke Cooking Camp, tempat pertemuan dan awal persahabatan mereka. Tapi tidak ada cooking camp musim panas ini. Yang dua tahun lalu perbukitan hijau yang terawat, kini hutan dan rerumputan yang mulai menggersang. Kandang kambing pun ikut-ikutan kosong tak terawat. Bima cs menemukan Chef galak yang dulu jadi mentor mereka, Chef Grant, dalam keadaan awut-awutan. Beliau kehilangan semangat untuk memasak, sama seperti anak-anak calon pengunjung camp yang tak lagi berniat untuk mendaftarkan diri. Cooking camp mereka sudah di’bury’ oleh pernyataan salah satu chef restoran top di televisi. Masa kemah masak tapi yang ngajarinnya entah-siapa yang gak punya restoran sendiri? Tapi Bima dan teman-teman tetap semangat. Dengan menyalurkan energi, mereka mendorong Grant untuk membuka sendiri cooking camp. Mereka jualan pake food truck untuk menggalang dana. Semangat mereka pun semakin menyala dengan bergabungnya Adit yang jago banget masak sandwich. Tapi Adit yang datang bersama tantenya yang cakep punya masalah sendiri yang membuatnya jadi terlalu fragile dalam urusan masak-memasak. Keutuhan tim mereka pun senantiasa terancam.

kalo enggak, pilihannya cuma antara buka warteg atau makan mi mentah

Film sekuel ini selain menyiapkan sejumlah tokoh baru, juga actually menyiapkan daging yang lebih tebal untuk diolah. Ada lebih banyak hal yang dilakukan geng Kolik dalam film kali ini. Mereka membangun kembali Camp yang hampir nyatu lagi ama hutan di sekitar. Kita melihat anak-anak itu belajar cara jualan. Menghadapi sepi-pelanggan, dan ketika lagi rame harus belajar caranya bekerja dengan efisien sehingga tidak kelimpungan. Juga sedikit ada bahasan mengenai menanggapi kritikan. Dan sebaliknya – bagaimana ternyata perkataan yang kita lontarkan terhadap seseorang atau sesuatu dapat berdampak lebih besar dari yang kita niatkan. Di atas semua itu, ada pelajaran berharga soal membuat bangga dan menyenangkan hati orangtua sekaligus tetap melakukan pekerjaan yang kita sukai.

Semua pelajaran hidup yang tak dapat ditemukan di sekolah tersebut – menjadikan film ini cocok sekali sebagai tontonan bermanfaat di kala liburan – dikemas dengan tidak berat. Tapi tetap tidak kehilangan hatinya. Salah satu adegan paling menyentuh dan menghangatkan dalam film ini adalah ketika tante Adit berusaha menenangakn Adit yang emosi karena masakan yang buat Adit sangat personal dikatain enggak enak. Koki-Koki Cilik 2 sangat respek dan catering kepada penonton cilik. Permasalahan keluarga, adegan-adegan emosional selalu diimbangi dengan keriangan. Misalnya; sebelum Adit dipaksa pulang dari camp, anak-anak itu sedang bercanda-canda ngejodohin Grant sama tante Adel. Atau Adit yang pendiam diberikan ‘kekuatan’ kocak yakni mampu meramal hujan lewat bersin. Kita melihat anak-anak tersebut dihadapkan kepada persoalan dewasa, dan film membiarkan mereka menjadi anak-anak yang berusaha menyingkapi dan memberikan solusi terhadap masalah tersebut. Sikap riang dan tingkah lucu para tokohnya menjadikan film ini seringan popcorn yang kita makan sembari menonton.

Untuk penonton dewasa, on the other hand, film ini dapat terasa terlalu menyuapi lantaran terlalu berusaha melayani penonton anak-anak. Ada beberapa dialog yang ditulis terlalu gamblang sehingga film jadi banyak cakap-cakap eksposisi. Buatku, film terasa agak kurang percaya sama pemahaman anak-anak. I mean, film-film kayak Toy Story 4 (2019) juga dibuat untuk anak-anak tapi tidak tampil terlalu literal. Dialog Koki-Koki Cilik 2 seharusnya juga tidak perlu terlalu menyuapi. Karena sering juga hal tersebut membuat pemeran anak-anaknya jadi terlihat kaku dan enggak lepas – mereka jadi ada ‘beban’ untuk menjelaskan alih-alih berakting sesuai imajinasi mereka. Perpindahan tone cerita dari yang riang menjadi lebih serius tersebut juga kadang terlalu cepat sehingga emosi yang diniatkan tidak mampu benar-benar tersampaikan. Dengan bahasan sebanyak yang film ini miliki, seharusnya diberikan alokasi waktu yang lebih panjang supaya emosi terbangun dengan lebih baik, supaya kita bisa lebih terinvest ke dalamnya. Tapi malahan editing pun tampak terburu-buru. Sering kita melihat adegan yang berakhir dengan mulut satu tokoh terbuka seolah hendak bicara, namun langsung dicut oleh pindah adegan. Adit di kala sendirinya suka berbicara dengan kalung; kebiasaan tersebut mustinya diperlihatkan cukup sering, tidak hanya dalam satu atau dua adegan. Begitu pula dengan pertunjukan boneka bayangan dari tantenya. Aku merasa seharusnya kita dapat adegan anak-anak menonton yang beneran dulu sebelum datang adegan boneka bayangan yang sebenarnya berfungsi untuk paparan informasi mengenai backstory Adit. Jadi elemen shadow puppet itu tak sekadar tampil sebagai aksesoris.

Link Download Koki-koki Cilik 2 (2019):
720p: Google Drive | Racaty | Zippyshare | Mirror
480p: Google Drive | Racaty | Zippyshare | Mirror
360p: Google Drive | Zippyshare