The Lawyers: Pokrol Bambu (2019)

The Lawyers: Pokrol Bambu (2019)

Genre: Drama, Komedi
Kualitas: Tahun: Durasi: 90 MenitDilihat: 53 views

Pertama-tama, saya mau ‘membantai’ directing-nya dulu. Angle jelek. Kayak angle sinetron. Apa yang membedakan film sinea dan sinetron? Salah satunya pengambilan gambar/angle. Kalau sinetron, kameranya kayak diem di tripod, di pojok ruangan sempit, jadi orang yang nonton rasanya ngganjel aneh, nggak indah gitu di mata. Apalagi kalau yang nonton ngerti fotografi/videografi, pasti ‘meraung-raung’ lihat film ini. Cut-nya juga jelek. Terlalu banyak cut tidak relevan, gak penting, fokus audiens jadi terpecah dari si A ngomong bla bla bla, harusnya kameranya tetap di A, gausa di-cut ke si B yang cuma cengengesan gajelas, jadi fokus audiens kepecah. Banyak gerakan kamera yang canggung, nggak penting, mengganggu, dan tidak profesional. Banyak panning ‘kasar’ dan tilt yang mekso banget, gak uenak pokoe disawang. Komposisinya juga ganjel. Sure, beberapa scene ‘ngerti’ komposisi, tapi basic banget (kayak the rule of third). Selebihnya ambu-ambu komposisi sinetron. Gobloknya, ada 2 scene yang paling cringe menurut saya. Pertama, masa ngetake courtroom scene pake high-angle, pake crane. Dan, seolah itu kurang cringe, ditambah lagi, pas high angle dengan crane itu, ada tilt yang kasar, ganggu banget, dan keliatan banget maksanya. Satunya lagi pas si Suparman sama Nina Tanjung jalan-jalan di danau, mereka nge-take pake drone.

Pake drone, sodara-sodara! Berasa kayak: a. bocah dapet drone baru bikin film, b. acara TV My Trip My Adventure, bedanya kalau MTMA merka justified to be lebay soalnya objektif mereka memang untuk memamerkan keseksian alam, nah kalo film ini? Apa coba tujuannya?? Gajelas! Saking cringe-nya saya pengen kabur dari bioskop sambil nangis.

Mereka juga nggak bisa memanage lighting gimana caranya buat membawa feel dalam film. Saya merasa kayak nonton film di bawah terik matahari, gak ada bedanya pas sedih, bingung, tegang, gembira, cahayanya gitu-gitu aja. Padahal lighting lah yang paling signifikan membedakan video amatir/video biasa dan film dengan real cinematography.

Tapi saya menghargai komposisi warna dalam film ini. Yah, not bad lah. Nggak sebagus Keluarga Cemara, tapi at least nggak buruk-buruk amat.

Jalan Cerita (spoiler sih, tapi menurut saya Anda bener-bener perlu baca bagian ini supaya bisa ngerti kritik penting saya di bagian bawah)

Jadi, intinya, Jeffry (si suami) punya kelainan sadomasochist. Mbuhlah opo kuwi, intine dia kalau mau berhubungan seksual, dia pukul-pukulin dulu pasangannya. Kemudian si Nina (istrinya) mau cerai dari Jeffry. Dia menjadikan Suparman (pengacaran unsuccessful, ‘pokrol bambu’-nya) pengacara perceraiannya. Jeffry menjadikan R.M. Wicaksono (pengacara sukses, kaya raya) pengacaranya. Nina ingin cerai, Jeffry tidak ingin cerai. Putusan sidang mengabulkan permohonan Nina, jadi mereka cerai. Tapi ternyata, si R.M. Wicaksono dan Nina bersekongkol. Wicaksono memang dari awal niatnya membantu Nina untuk cerai, soalnya dia ingin kawin sama Nina karena Nina cantik. Tapi, ujung-ujungnya, si Nina malah kawin sama Suparman, despite the fact that Suparman itu gendut, jelek, gapunya duit, dan ga sukses lawyeringnya.
Jeffry yang akhirnya tahu kalau pengacaranya menghianatinya, membunuh Wicaksono. Kemudian Jeffry dipenjara, dianggap ‘gila’.
Di ‘sisi lain’, ada cerita tentang para staff kantor hukumnya Suparman yang kesusahan cari klien, gapunya duit, dan tiap dapet klien apes doang isinya. Ada juga cerita tentang bagaimana mereka nipu pedagang warung tetangga mereka, yang mereka hutangi sampai numpuk-numpuk. Parah banget pokoknya.
Paham? Nggak paham? Oke, whatever. Saya sudah berusaha menjelaskan. Memang ceritanya itu ga jelas, bercabang-cabang, nggak fokus, premisnya nggak jelas. Sebenernya nggak pa-pa sih, kalau mau bikin film dengan cerita bercabang, tapi honestly, ini cerita bercabangnya jelek banget, gajelas banget. Premisnya itu apa saya nggak ngerti, pesan moralnya apa, saya nggak ngerti. Tidak ada pondasi yang kuat, sebenarnya ini film tentang hukum atau drama percintaan atau komedi atau apa.
Sebenernya film ini bisa menggambarkan praktik hukum di Indonesia yang dirty dan tricky. Ada juga beberapa dialog, misalnya ketika ditanya kliennya tentang kepastian hukum, R.M. Wicaksono bilang, “Di negara ini, kepastian hukum adalah ketidakpastian itu sendiri.”
Honestly, I applaud that statement. Tapi itu bukan statement original. Dosen saya sudah sering mengatakan itu, jadi itu bukan sesuatu yang come out of originality and creativity of the scriptwriter.

Kritik

Di samping bad storyline dan bad cinematography, menurut saya, film ini sending the wrong message ke masyarakat. Kita semua sudah tahu kalau dunia hukum di negara ini itu shitty, nggak usah dijelasin lagi, tapi gapapa sih kalau mau jelasin pake film. Masalahnya, film ini jelasinnya itu nggak ada faedah-faedahnya blas, malah bikin masyarakat yang ‘buta’ makin ‘buta’. Kenapa? Karena pesan moralnya tu nggak ada.
Film ini menempatkan Nina sebagai protagonis. Dia ditempatkan sebagai korban sadomasochist Jeffry, tokoh yang perlu dikasihani, when in fact, I should say, Nina is actually a bitch. Dia itu ngerti suaminya kelainan. Dari film itu juga jelas bahwa Jeffry sebenernya masih cinta sama Nina, it’s not something that is hard for Nina to understand. Jadi, harusnya Nina bawa Jeffry ke psikolog/psikiater, bukannya menceraikannya, dan membuat Jeffry makin menderita, apalagi dengan bersekongkol dengan Wicaksono, dan ujung-ujungnya malah nikah sama Suparman. Ini buruk sekali menurut saya. Ditambah lagi, dengan Jeffry dipenjara, dianggap gila.
Negara:
Rilis:
Direksi:

Link Download The Lawyers: Pokrol Bambu (2019):
720p: Google Drive | Racaty | Zippyshare | Mirror
480p: Google Drive | Racaty | Zippyshare | Mirror
360p: Google Drive | Zippyshare