Yowis Ben 2 (2019)

Yowis Ben 2 (2019)

Kualitas: Tahun: Durasi: 109 MenitDilihat: 205 views
3 voting, rata-rata 6,2 dari 10

Band yang di film pertamanya udah sukses populer seantero Malang itu kini personelnya sudah pada lulus SMA. Mereka udah pada gede-gede. Kudu nentuin jalan hidup sendiri, karena kalimat “welcome to the jungle!” toh memang benar adanya. Hidup anak-anak muda tersebut baru saja dimulai. Malahan, ada salah satu dari mereka yang langsung menikah jadi dia punya tanggungjawab kepala keluarga sekarang. Bagi Bayu pun begitu; tak mungkin dia terus bergantung pada pecel ibu dan gig-gig band konyol yang dicarikan oleh pamannya, si Cak Jon, sebagai monecot, eh salah.. manajer band! Tidak jika Bayu enggak mau mereka sekeluarga diusir dari rumah kontrakan. Maka Bayu mutusin untuk enggak lanjut kuliah, dia berniat serius berkarir bersama teman-teman Yowis Ben. Meskipun jika untuk melebarkan sayap demi rezeki itu dia terpaksa harus mencari manajer baru menggantikan pamannya. Ataupun harus rela meninggalkan kota Malang tempat band mereka literally dibesarkan.

Yowis Ben 2 menawarkan cerita yang lebih dewasa dibandingkan film pertamanya, dengan tetap berpegang kuat pada sudut pandang si anak muda. Kita bakal tetap berpusat pada masalah-masalah percintaan, ataupun lika-liku anak band yang berusaha untuk bermain bagus dan masuk tivi, tapi motivasi di balik semua permasalahan dibuat menjadi lebih ‘serius’. Stake yang mengancam di sini adalah urusan yang benar-benar ‘hidup atau mati’ karena menyangkut tanggung jawab terhadap keluarga. Dan bagaimana menjadi bagian dari band membuat kita menjadi semacam satu ‘keluarga’ lagi, di mana kita gak bisa egois hanya memikirkan keluarga-beneran kita sendiri. Yowis Ben 2 mengajak penonton yang udah tergelak-gelak mengikuti film pertamanya untuk tumbuh bersama tokoh-tokohnya. Dan memang ngikutin dua film ini sudah seperti kita ngikutin perjalanan bintang musik yang kita senengi, segitu berhasilnya film ini mengekspansi semesta cerita yang ia miliki.

ada yang ngitungin berapa kali kata ‘jancuk’ disebut dalam film ini?

Tadinya memang seperti sebuah pilihan aneh yang dilakukan oleh sutradara Fajar Nugros; buat apa memindahkan lokasi ke Bandung dengan resiko membagi dua penonton alih-alih merangkul lebih banyak jika filmnya malah jatoh setengah-setengah. Ternyata Yowis Ben 2 bukan saja berhasil meluaskan dunia, melainkan juga sukses memadupadankan dua budaya. Banyaknya tokoh baru dibarengi oleh semakin kayanya materi yang bisa dimanfaatkan oleh film ini, baik untuk komedi maupun untuk melandaskan pesan yang dibawa oleh cerita. Kepindahan ke Bandung menimbulkan tantangan baru bagi para tokoh; mereka kini berada dalam situasi fish-out-of-water, ada banyak yang harus mereka pelajari. Dan kepindahan tersebut juga paralel dengan harapan mereka untuk berangkat dari band sekolahan ke band nasional. Kultural shock tentu saja dimainkan jadi alat komedi paling utama. Kali ini penonton akan terbahak-bahak melihat gimana cerdasnya naskah menabrakan bahasa dan kebiasaan arek malang dengan urang sunda. Kosa kata yang sama namun berbeda yang dimiliki oleh kedua daerah akan mewarnai canda-canda dialog. Subtitle memastikan penonton di luar dua daerah tersebut tidak ketinggalan apapun dan dapat tertawa bersama. Bahasa boleh berbeda, tapi anekdot dan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh tokoh filmnya ini kurang-lebih sama dan dapat dengan gampang berelasi dengan para penonton.

Kepindahan ke Bandung diperlukan demi menguatkan pesan bahwa terkadang kita harus melakukan perjalanan, keluar dari comfort zone, untuk bisa berkembang menjadi lebih baik. Namun itu bukan berarti kita tidak boleh balik lagi. Bukan kepindahannya, melainkan proses saat kita berpindah itu yang nyatakan akan menjadi pembelajaran. Nyali Yowis Ben 2 bukan hanya berhenti di memindahkan tokohnya. Film ini juga berani untuk menunjukkan cerita kekalahan. Sebab terkadang masih ada hal yang lebih penting ketimbang kepopuleran. Masih banyak jalan yang bisa dilewati untuk menjemput rejeki. Dari cerita ini kita juga terdorong untuk jadi lebih mencintai orang-orang terdekat sebagai keluarga kedua, untuk belajar menerima meskipun mungkin banyak kekurangannya. Karena mungkin kita tidak tahu apa yang sudah mereka lakukan demi kita.

Sah-sah saja, tidak perlu malu untuk gagal jika keberhasilan yang ada di ujung satunya berarti kita harus melupakan siapa diri kita, mengabaikan keluarga yang sudah membesarkan. Karena penting untuk senantiasa memegang teguh akar diri, mengingat darimana kita berasal

Pesan-pesan demikian tersaji frontal di dalam cerita, menyembul di sela-sela komedi yang bekerja efektif. Fajar Nugros kentara sekali punya selera humor yang benar-benar merakyat, dan arahannya berhasil meng-encourage para pemain untuk tampil gak jaim dan benar-benar lepas – membuat karakter mereka menjadi hidup bersama dunianya. Formasi Bayu Skak – Joshua Suherman – Brandon Salim – Tutus Thomson terasa cukup solid, mereka bisa saling bercanda, bahkan ‘berantem’ dengan sama meyakinkannya. Tentu saja menambah banyak bahwa mereka actually bisa main band beneran. Jika film terus lanjut mem-push mereka, bukan tidak mungkin kwartet ini bisa tumbuh berkembang menjadi semacam ekuivalen Warkop buat generasi kekinian, ditambah dengan kepopuleran mereka sebagai bahan pertimbangan. Pemain-pemain lain juga diberikan kesempatan untuk menunjukkan sisi komedi dari mereka. Anggika Bolsterli mungkin adalah yang paling mencuri perhatian, dan jelas tokohnya adalah yang dapat sambutan paling hangat ditambahkan masuk ke dalam dunia Yowis Ben. Film ini berani menyerahkan tugas komedi itu kepada aktor-aktor yang tak sering dijumpai berbanyol dan ‘berjelek’ ria. Dan kupikir keberanian tersebut hadir diback-up oleh kemampuan meracik lelucon – sehingga yang ‘kodian’ tetep terasa seger – dan penguasaan timing yang handal.

Link Download Yowis Ben 2 (2019):
720p: Google Drive | Racaty | Zippyshare | Mirror
480p: Google Drive | Racaty | Zippyshare | Mirror
360p: Google Drive | Zippyshare